"Profesional, Berkarakter dan Berdaya Cipta "

Rektor UKSW Kritisi Sistem Pendidikan Nasional Indonesia

Posted by administrator - 12-05-2017 10:43:30

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Deni Setiawan

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Rektor Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) John A Titaley mengkritisi sistem pendidikan nasional di Indonesia.

Menurutnya, sistem pendidikan di Indonesia membuat anak didik belum beridentitas Indonesia.

Ia menyontohkan mata pelajaran agama yang dijadikan mata pelajaran wajib.

"Semestinya diwajibkan itu adalah tentang mata pelajaran religiositas Indonesia," katanya dalam Seminar Nasional Keberagaman dalam Pendidikan di Indonesia yang diselenggarakan di Balairung Universitas Kompleks Kampus UKSW Jalan Diponegoro Kota Salatiga, Rabu (10/5/2017).

Dengan begitu, setiap warga negara tak hanya sama di mata hukum namun juga di hadapan Tuhan.

Ia tidak menampik jika belakangan ini kerap dijumpai masalah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pangkal masalahnya, menurut dia, adalah karena belum solidnya pendidikan nasional di Indonesia.

"Untuk jadi negara maju, pendidikan harus mengacu pada identitas bangsa Indonesia, bukan pada identitas kesukuan," ucapnya.

Apa yang dikritisi Rektor UKSW tersebut diamini Ahmad Munjid, akademisi dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.

Menurutnya, pelajaran agama yang selama ini diberikan secara monoreligiusitas tidak cocok diterapkan di Indonesia yang penuh dengan keberagaman.

Pemerintah perlu mengubah sistem pendidikan semacam itu.

Yang perlu diubah, jelas dia, adalah sistem yang semula bersifat monoreligiusitas menjadi sistem pembelajaran yang inter religiusitas.

"Sehingga apa yang dicita-citakan tentang kehidupan keberagaman dalam bermasyarakat khususnya di dunia pendidikan dapat mudah tercapai,” terang Munjid.

Pembicara lain dalam seminar tersebut, Pastor FX Mudji Sutrisno menyampaikan, jika kehidupan di Indonesia sangat beragam.

Keberagaman di Indonesia itu adalah bagian dari sebuah berkah Tuhan Yang Maha Esa.

“Berkait religiositas ini, kehidupan yang beragam itulah yang sekiranya perlu dikembangkan melalui jalan kebudayaan yang memanusiakan manusia. Hal itu akan semakin mudah tercapai dan terwujud ketika di dunia pendidikan di sekolah maupun perkuliahan diterapkan seperti dimasukkan ke dalam mata pelajaran,” ucapnya.

Sedangkan Chairman Garuda Food Sudhamek AWS memaparkan manajemen karakter.

Menurutnya, adalah muara dari pendidikan.

Karakter, jelas dia, dapat terbentuk dengan baik jika setiap orang mau mentransformasi diri.

Setidaknya ada tiga kunci dalam transformasi diri, yakni secara intensif, fokus, dan konsisten.

"Jika ketiganya bisa dilakukan, kami yakin, masyarakat yang ada di sini akan semakin berkarakter,” tuturnya.

Ketua panitia, Sunardi menambahkan, seminar yang diadakan pihaknya tersebut diikuti ratusan peserta mulai dari kalangan akademisi (dosen), guru, mahasiswa, maupun praktisi pendidikan di Jawa Tengah.

Selain itu, ada sekitar 127 paper yang dipresentasikan oleh peserta dan nantinya seluruhnya itu akan dimasukkan ke dalam prosedium ber ISSN secara elektronik. (*) Sumber